Admin 2026-02-03 11:49:35
Petani Alpukat Purwodadi Mulai Panen "Apit"
Purwodadi (SPNU) - Berwisata menjadi salah satu aktifitas
yang selain menyenangkan, juga menambah banyak wawasan.
Wisata petik buah alpukat, bisa jadi salah satu daftar
agenda yang wajib dilakukan, utamanya saat musim panen raya.
Gak usah jauh-jauh ke luar kota, cukup di Kecamatan
Purwodadi, Kabupaten Pasuruan. Di sini, ada tiga desa penghasil utama buah
alpukat, yakni Desa Pucangsari, Tambaksari, dan Gajahrejo
Mau alpukat yang jenis lokal atau varietas impor, semuanya
ada di sini. Bahkan, hamparan kebun alpukat kalau ditotal mencapai ratusan
hektar yang menghasilkan alpukat berkualitas, baik untuk kebutuhan lokal maupun
dikirim ke berbagai penjuru nusantara
Budi Rahman, salah satu petani alpukat di Desa Pucangsari
mengaku punya 250 pohon yang saat ini sudah mulai berbuah lebat. Dari jumlah
tersebut, sebagian besar pohon yang ditanam berjenis impor, seperti miki, kuba,
markus, hawai, aligator sampai alpukat mentega yang populer di kalangan pecinta
alpukat nusantara.
"Kalau alpukat lokal cuma 25 persen sekitar 35 pohon.
Sisanya ya alpukat yang varietas impor," ungkap Budi saat ditemui di kebun
miliknya, Senin (2/2/2026).
Dalam satu pohon, Budi bisa memanen buah alpukat antara 2-5
kwintal. Untuk menghasilkan buah yang berkualitas, ada banyak hal yang harus
diperhatikan, mulai dari pemilihan bibit yang tepat, penentuan lokasi
penanaman, penyiraman dan pemupukan, sampai pengendalian hama penyakit.
"Kalau dengan perawatan yang konsisten dan teknik
budidaya yang benar, tanaman alpukat dapat mulai berbuah sejak usia 4 tahun,
tapi rata-rata 5 tahun sudah berbuah semua," terangnya.
Lebih lanjut pria yang juga menjadi Ketua Asosiasi Petani
Alpukat Kecamatan Purwodadi ini mengungkapkan bahwa saat ini masih belum
dikatakan panen raya alias panen apit. Meski sudah banyak tapi belum membludak,
sehingga harga jualnya pun masih cukup mahal.
"Kalau yang lokal antara 20 sampai 25 ribu per
kilogram. Kalau yang impor sampai 35 ribu," singkatnya.
Diakui Budi, alpukat miliknya disukai banyak para
pecintanya, mulai dari Malang, Batu, Sidoarjo bahkan sampai Kalimantan.
"Yang ke Kalimantan Timur sampai pengiriman 10
ton," ucapnya.
Sementara itu, Camat Purwodadi, Sugiharto menjelaskan
tingginya potensi yang dimiliki di tiga desa penghasil alpukat membuat para
petani berinovasi dengan mengembangkan wisata edukasi budidaya buah alpukat.
Hal tersebut dapat diketahui dari tugu bertuliskan Kampung
Alpukat di tiga desa penghasil.
"Ada kampung alpukat yang sudah dibuat dalam bentuk
tugu selamat datang, dan ini jadi penanda keseriusan pemerintah desa yang
didukung para petani alpukat," tegasnya.
Tingginya potensi buah alpukat di Purwodadi tak disia-siakan
begitu saja. Kata Sugiharto, Pemerintah Kabupaten Pasuruan membuat sebuah
gerakan makan buah alpukat untuk mencegah bayi dan balita dari bahaya stunting.
"Ada gerakan namanya Gema Kating. Dengan cara ini
masyarakat jadi tahu bahwa Pemerintah daerah akan terus memaksimalkan setiap
potensi yang ada di sini, dengan memanfaatkan buah alpukat menjadi asupan gizi
yang dapat dikonsumsi, salah satunya mencegah agar anak terhindar dari bahaya
stunting," harapnya. (eml)