Kelahiran Nabi Muhammad SAW, Pengrajin Cobek Di Pasuruan Kebanjiran Order

  • by
  • Uncategorized

Gadingrejo (PNU) – Cobek atau cowek (versi bahasa jawa,red) selalu diburu oleh umat islam, tatkala Maulud Nabi atau Kelahiran Nabi Muhammad SAW, tiba.

Meski digempur dengan aneka keranjang plastik yang menarik perhatian, namun gerabah yang terbuat dari tanah liat ini tetap menjadi favorit warga sebagai wadah atau tempat untuk buah-buahan, kue atau segala bentuk makanan yang akan dibawa ke masjid , musholla atau di tempat-tempat yang menggelar perayaan Kelahiran Nabi.

Sofa (53 tahun) bisa dibilang menjadi pengrajin cobek di Pasuruan yang tetap bertahan hingga kini.

Perempuan yang bertempat tinggal di RT 2 RW 5 Kelurahan Randusari, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan ini sudah 35 tahun menekuni profesi sebagai pembuat cobek. 

Saat ditanya, Sofah mengaku mulai tertarik membuat cobek tatkala melihat sang mertua yang asyik bergelut dengan cobek, setiap harinya. Dari situlah, ia pun langsung ikut terjun untuk belajar membuat cobek.

“Dulu pas saya masih usia 18 tahun. Masih punya anak satu. Kebetulan ibu mertua kok bikin cobek. Saya lihat kok seneng ya, bisa mutar-mutar dan ngasih kembangan (bisa memutar-mutar dan memberi corak bunga), ya sudah saya langsung belajar,” ungkapnya.

Untuk bisa membuat cobek, harus memakai perasaan. Kata Sofah, apabila dibuat dengan hati gembira, maka cobek yang dibuatnya bisa sempurna. Namun, apabila stress atau gundah gulana, maka satu cobek pun tak akan bisa dibuat.

“Bisa pletot-pletot kalau buat cobek dengan marah-marah, pusing atau lagi stress. Tapi kalau dibuat dengan gembira, sehari bisa banyak cobek yang saya buat,” terangnya.

Dulu, dalam sehari, Sofah bisa membuat maksimal antara 100-150 cobek dengan berbagai ukuran. Namun, karena usianya sudah tak muda lagi, kini ia hanya bisa membuat maksimal 50 cobek. 

“Sekarang kaki sudah kesemutan. Tangan juga tak sekuat dulu, Jadi bisanya cuma 50 cobek sehari,” singkatnya.

Khusus cobek di momen Maulud Nabi, Sofah menjual satu cobek dengan harga Rp 2000. Kalau beli dengan jumlah banyak hingga 500-1000 buah, maka ia memberikan potongan hingga Rp 300. 

Diakuinya, saat ini ia tengah menyelesaikan pesanan sebanyak 2000 cobek yang datang dari salah satu warga Kabupaten Pasuruan. Selain itu, perempuan 4 anak ini juga tengah menggarap 1000 cobek pesanan salah satu rumah makan yang harus selesai dalam satu bulan.

“Alhamdulillah, Tuhan selalu ngasih rejeki meski saya sudah tak muda lagi. Lumayan untuk menyambung hidup mas,” ucapnya.

Dalam hal cara membuatnya, Sofah sedikit menjelaskan bahwa tanah yang dipilih terdiri dari dua jenis, yakni tanah merah dan hitam. Kedua jenis tanah ini terlebih dulu dicampur dengan prosentase 70% tanah merah dan 30% tanah hitam.

Setelah itu, proses dilanjutkan dengan mencampurkan air dan pasir hingga terbentuk adonan tanah yang siap untuk dibentuk. Tak ada cetakan cobek yang membentuk sebuah cobek. Sebaliknya, semua bentuk cobek berasal dari instinct atau naluri Sofah, sang pembuat cobek sejati. (emil)